Ngeri, Klaim Sang Ustadz; Takbiran Malam Hari Raya Bid’ah…

Takbiran Hari RayaKetika itu saya berada di salah satu rumah sakit besar di daerah saya. Kebetulan, saya dan keluarga sedang menunggu saudara yang dalam proses penyembuhan.

Ustadznya sudah agak tua. Perkiraan lebih dari 60 tahun, usianya. Ceramahnya saya dengar usai shalat berjamaah di masjid rumah sakit. Dia memulai kultumnya dengan menyitir salah satu ayat Al-Qur’an yang kira-kira isinya: Apabila kalian mengikuti mayoritas orang, maka seseungguhnya mereka akan menyesatkanmu.

Sang Ustadz lalu menguatkan dalilnya dengan berbagai contoh.

Salah satu contohnya ialah kebiasaan mayoritas orang Muslim di Indonesia yang mengadakan takbiran di malam hari Raya (Idul Adha dan Idul Fitri).

Kebetulan, saat itu sedang bulan puasa (Ramadhan). Sudah hari-hari terakhir.

Ia juga memberi contoh: kebiasaan mayoritas orang-orang muslim yang saling berkunjung dan silaturrahmi setelah shalat Idul Fitri.

Argumennya, Nabi tak pernah melakukan hal tersebut. Katanya pula, silaturrahmi itu dilakukan setiap ada kesempatan. Tak hanya khusus di momen hari Raya Idul Fithri.

Dia bilang, kalau kita mengikuti perbuatan mayoritas kaum muslimin, kita telah disesatkan mereka. Sebab, Nabi tak pernah melakukannya. Sementara kita melakukan itu hanyalah IKUT-IKUTAN.

Ketika itu, kepala saya mendidih. Ingin segera kulempar ia dengan sebuah pisang. Agar dimakannya dan berhenti menghasut orang tanpa dalil.

Ketika itu, saya yakin dengan seyakin-yakinnya penafsirannya terhadap ayat tersebut NGAWUR. Sama sekali jauh dari Al-Quran dan prinsip-prinsip agama Islam.

“Barangsiapa yang menafsirkan (memahami) Al-Quran dengan akalnya, ia telah menyiapkan tempatnya di surga.” (Hadis)

Saya segera bangkit dari tempat duduk. Meninggalkan majelis yang (sebelumnya) saya harapkan bisa menjadi sarana menambah ilmu bagi saya.

Saya temukan riwayat hadis shahih yang menolak dengan jelas klaim sang ustadz tua.

Sebuah riwayat Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971  yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata:

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري

Artinya : “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadispun diperintah keluar dari rumahnya,    begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan dibelakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria)dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”.

Di sebutkan dalam hadits tersebut  فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْpara wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Itu menunjukan  takbir  terjadi secara berjamaah atau bersamaan.

Bahkan dalam riwayat imam Muslim dengan kalimat”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir:  يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاس